Berantas Buta Aksara Al-Quran, Penyuluh Sambangi Lapas Purwokerto
Oleh KUA Sokaraja
Purwokerto – Upaya pembinaan kerohanian bagi warga binaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Purwokerto terus ditingkatkan. Tim Penyuluh Agama Islam dari Kecamatan Sokaraja kembali menggelar bimbingan Baca Tulis Al-Qur'an (BTA) guna menggairahkan semangat religiusitas di balik jeruji besi. Selasa (13/01)
Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB ini diikuti oleh ratusan warga binaan. Menariknya, semangat belajar tersebut tidak dibatasi oleh faktor usia. Peserta tercatat mulai dari usia muda 20 tahun hingga lansia berumur 80 tahun yang tampak khidmat menyimak materi.
Untuk mengoptimalkan capaian pembelajaran, tim penyuluh menerapkan metode kombinasi, yakni klasikal dan sorogan. "Metode klasikal digunakan untuk penyampaian teori dasar secara kolektif. Sementara metode sorogan dilakukan secara personal agar penyuluh bisa mengoreksi langsung kualitas tajwid dan makhraj setiap individu," ujar salah satu anggota tim penyuluh.
Sebanyak tujuh personel penyuluh diterjunkan dalam program yang rutin dilaksanakan setiap Selasa dan Kamis tersebut. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap warga binaan mendapatkan pendampingan yang intensif.
Pihak Lapas Kelas IIA Purwokerto menyambut positif konsistensi program ini. Petugas Pelayanan Tahanan (Yantah), H. Marmin didampingi Febri, mengungkapkan bahwa bimbingan ini memberikan dampak signifikan terhadap mentalitas warga binaan.
"Kami sangat mengapresiasi kehadiran para penyuluh. Ini merupakan bagian dari pembinaan kepribadian. Kami berharap ilmu yang didapat menjadi bekal spiritual yang kuat bagi mereka, terutama sebagai modal saat nanti kembali berbaur dengan masyarakat," tegas H. Marmin.
Melalui program ini, Lapas Purwokerto dan Penyuluh Sokaraja berkomitmen tidak hanya memberantas buta aksara Al-Qur'an, tetapi juga menjadikan kegiatan ini sebagai sarana rehabilitasi batin agar para warga binaan dapat bertransformasi menjadi pribadi yang lebih baik.
