HUT RI #81

Bimwin Kepala KUA Jatilawang: Toxic Relationship

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
30 Okt 2026
20x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 30-10-2026 18:08
SHARE

Jatilawang — Membangun rumah tangga bukan sekadar menyatukan dua hati, melainkan belajar menjaga agar keduanya tetap tumbuh tanpa saling melukai. Pesan itulah yang disampaikan Iskandar Zulkarnain, Kepala KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin Angga Prayogi dan Alodia Rul Saffanah, melalui materi tentang toxic relationship dan pentingnya menjaga kesehatan emosional dalam kehidupan pernikahan. Jumat (30/10)

Dalam bimbingan tersebut, Iskandar menekankan bahwa hubungan yang tidak sehat perlu dikenali sejak dini sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Hubungan yang semestinya menghadirkan ketenangan justru dapat menjadi sumber kelelahan, kesedihan, dan kecemasan apabila diwarnai perilaku yang terus-menerus melukai perasaan pasangan.

Menurutnya, cinta tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan rasa aman di rumahnya sendiri. Pernikahan idealnya menjadi tempat untuk pulang, berbagi cerita, dan menemukan kekuatan, bukan ruang yang membuat salah satu pihak terus-menerus merasa takut, tertekan, atau tidak dihargai.

Iskandar juga mengingatkan bahwa konflik merupakan bagian yang wajar dalam kehidupan rumah tangga. Namun, cara pasangan menyelesaikan persoalan menjadi penentu apakah perbedaan akan mendewasakan atau justru merusak hubungan. Komunikasi yang terbuka, kesediaan mendengarkan, sikap saling menghormati, serta kemampuan mengendalikan emosi menjadi fondasi penting dalam merawat keharmonisan.

Apabila perasaan lelah, sedih, dan cemas terus muncul dalam interaksi dengan pasangan hingga mengganggu keseharian, pasangan perlu mempertimbangkan bantuan profesional, seperti psikolog atau konselor pernikahan. Mencari bantuan bukanlah tanda kegagalan, melainkan bentuk kepedulian terhadap diri sendiri dan masa depan rumah tangga.

Bimbingan ini menjadi bekal bagi Angga Prayogi dan Alodia Rul Saffanah untuk memahami bahwa pernikahan bukan tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan bagaimana dua insan saling menjaga. Sebab, rumah tangga yang kokoh tidak dibangun oleh satu pihak yang selalu menang, tetapi oleh dua hati yang bersedia saling memahami.

Pada akhirnya, cinta yang matang bukanlah cinta yang tak pernah menghadapi masalah, melainkan cinta yang tidak menjadikan masalah sebagai alasan untuk saling merendahkan. Sebab, rumah seharusnya menjadi tempat hati beristirahat, bukan tempat luka terus bertambah.