Dari Iqra Menuju Cahaya: Perjuangan Lansia Mengejar Mimpi Bisa Membaca Al-Quran

Oleh HUMAS
SHARE

Purwokerto — Semangat para lansia di Arcawinangun kembali menyala setiap Jumat siang. Dibawah bimbingan Penyuluh Agama Islam Purwokerto Timur, kegiatan pemberantasan buta huruf Al-Qur’an terus berjalan dengan penuh kehangatan dan antusiasme. Program ini menjadi ruang bagi para lansia untuk kembali menuntut ilmu agama meski di usia yang tak muda lagi. Jumat (14/11)

Para peserta yang seluruhnya berusia lanjut datang dengan niat kuat untuk bisa membaca Al-Qur’an. Pembelajaran dimulai dari dasar, yaitu Buku Iqra, karena sebagian besar masih kesulitan melafalkan huruf hijaiyah. Tantangan itu tidak mematahkan semangat mereka—justru menghadirkan suasana haru dan kebanggaan tersendiri setiap kali satu demi satu huruf berhasil diucapkan dengan benar.

Kendala fisik dan jarak sebelumnya menjadi penghalang utama bagi para lansia untuk belajar di masjid. Lokasi yang cukup jauh membuat mereka tidak mampu berjalan sejauh itu. Namun kini, berkat metode “jemput bola” oleh para penyuluh agama, pintu pembelajaran agama kembali terbuka lebar. Dengan mendatangi para peserta langsung di lingkungan mereka, penyuluh berhasil menghadirkan pendidikan Qur’ani yang lebih inklusif dan penuh kepedulian.

Susi, Pimpinan Majelis Taklim Az Zahra, menyambut baik terselenggaranya kegiatan berharga ini. “Saya sangat bersyukur dengan adanya program pemberantasan buta huruf Al-Qur’an ini. Banyak ibu-ibu lansia yang sebelumnya tidak bisa datang ke masjid karena keterbatasan fisik. Tetapi sekarang, dengan penyuluh yang hadir langsung di sini, mereka bisa kembali belajar dan merasa bahagia,” ujarnya.

Menurut Susi, program ini tidak hanya mengajarkan bagaimana membaca Al-Qur’an, tetapi juga memulihkan rasa percaya diri serta memberi kebahagiaan bagi para lansia. “Mereka merasa dihargai, diperhatikan, dan diberi kesempatan untuk terus belajar meski usia sudah sepuh,” tambahnya.

Kegiatan yang berlangsung rutin setiap Jum’at siang ini telah membawa perubahan positif. Selain meningkatnya kemampuan membaca Iqra, tercipta pula suasana penuh kebersamaan di antara peserta. Tawa, cerita, dan semangat mereka menjadi bukti bahwa belajar tidak mengenal batas usia.

Program ini diharapkan dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain untuk memberikan akses pembelajaran Al-Qur’an bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan, khususnya para lansia. Dari Iqra menuju cahaya, perjuangan para lansia ini menjadi bukti bahwa tekad dan niat yang kuat mampu menembus keterbatasan apa pun.