Jaro Rajab, Harmoni Tradisi dan Spiritualitas di Masjid Saka Tunggal Cikakak
Oleh HUMAS
Banyumas - Tradisi Jaro Rajab kembali digelar di Masjid Saka Tunggal Cikakak, bertepatan dengan 27 Rajab 1477 H. Kegiatan tahunan ini menjadi momentum penting bagi masyarakat Cikakak untuk memadukan nilai-nilai tradisi leluhur dengan spiritualitas Islam dalam suasana khidmat dan penuh kebersamaan. Jum’at (16/01/26)
Sejak pagi hari, masyarakat dan peziarah dari berbagai daerah mulai memadati kawasan Masjid Saka Tunggal. Prosesi Jaro Rajab ditandai dengan penggantian pagar bambu (jaro) yang mengelilingi masjid, sebuah simbol perawatan, penghormatan, sekaligus pelestarian warisan budaya dan keagamaan yang telah berlangsung turun-temurun.
Tokoh adat Cikakak, Suyitno, menjelaskan bahwa tradisi Jaro Rajab bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan sarat dengan makna filosofis. “Jaro Rajab adalah wujud rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur, sekaligus pengingat bagi generasi sekarang untuk menjaga nilai-nilai kebersamaan dan kelestarian tradisi,” ujarnya.
Selain prosesi adat, kegiatan ini juga diisi dengan doa bersama dan seni terbangan sebagai bentuk penguatan nilai spiritual. Masjid Saka Tunggal yang dikenal sebagai salah satu masjid bersejarah di Banyumas menjadi pusat aktivitas keagamaan dan budaya, memperlihatkan harmonisasi antara adat dan ajaran Islam.
Kepala Desa Cikakak, Akim, menyampaikan bahwa tradisi Jaro Rajab memiliki peran penting dalam memperkuat identitas dan persatuan masyarakat. “Tradisi ini bukan hanya milik warga Cikakak, tetapi sudah menjadi daya tarik budaya dan religi. Kami berkomitmen untuk terus menjaga dan mendukung pelaksanaannya,” ungkapnya.
Sementara itu, Penyuluh Agama Islam, Joharulloh, menilai tradisi Jaro Rajab sebagai sarana dakwah kultural yang efektif. “Selama nilai-nilai yang dijalankan tidak bertentangan dengan ajaran Islam, tradisi seperti Jaro Rajab justru dapat menjadi media untuk menanamkan pesan keagamaan dengan pendekatan budaya,” jelasnya.
Melalui pelaksanaan Jaro Rajab, masyarakat Cikakak menunjukkan bahwa tradisi dan spiritualitas dapat berjalan beriringan. Kegiatan ini diharapkan terus lestari sebagai warisan budaya religius yang memperkaya khazanah Islam Nusantara sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga. (jhr)
