Kajian Internal Penyuluh Tekankan Pentingnya Adab sebagai Pondasi Keimanan
Oleh KUA JATILAWANG
Banyumas — Penyuluh Agama Islam KUA Jatilawang kembali melaksanakan kajian internal rutin pada Kamis pagi dengan mengkaji kitab Adab al-‘Alim wal Muta‘allim. Kajian ini merupakan ruang pembinaan khusus bagi penyuluh dan pegawai KUA sebagai upaya memperkuat kapasitas spiritual dan profesional mereka dalam menjalankan tugas pembinaan umat. Kamis (04/12)
Pada pertemuan kali ini, fokus pembahasan diarahkan pada pesan mendalam dari Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari yang menegaskan bahwa siapa saja yang kehilangan adab, maka hilang pula syariat, iman, dan tauhid dari dirinya. Pesan ini menjadi pengingat penting bagi para penyuluh yang memiliki peran strategis dalam membimbing masyarakat.
Penyuluh senior yang memimpin kajian menjelaskan bahwa adab bukan sekadar etika lahiriah, melainkan cerminan kedalaman iman dan integritas pribadi seorang muslim. Bagi para penyuluh, adab merupakan pondasi yang menentukan kualitas dakwah dan pelayanan kepada masyarakat. Ketika adab terjaga, maka setiap nasihat dan bimbingan akan lebih mudah diterima dan memberi pengaruh positif.
Diskusi internal berlangsung hangat ketika peserta mengaitkan pesan tersebut dengan tantangan sosial dan moral yang muncul di masyarakat, termasuk fenomena hilangnya rasa saling menghormati, melemahnya etika bermedia sosial, hingga menurunnya kepedulian sosial. Para penyuluh menilai bahwa masalah-masalah tersebut sering kali berakar dari longgarnya nilai adab dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kajian ini, para penyuluh juga melakukan refleksi diri mengenai pentingnya menjaga keteladanan. Sebagai ujung tombak bimbingan keagamaan, mereka dituntut tidak hanya menyampaikan ajaran, tetapi juga menampilkan akhlak dan adab yang baik dalam interaksi dengan masyarakat, rekan kerja, maupun dalam menyelesaikan persoalan layanan keagamaan.
Kegiatan kajian internal ini menjadi wahana penguatan kapasitas, koordinasi, dan pembaharuan semangat dakwah para penyuluh. Dengan suasana diskusi yang kondusif, peserta dapat saling mengingatkan dan memperkaya pemahaman, sehingga pembinaan umat dapat dilaksanakan secara lebih matang dan penuh tanggung jawab.
Sebagai penutup, penyuluh menyampaikan kesimpulan yang kembali menegaskan bahwa adab adalah mahkota seorang muslim dan menjadi kunci keberkahan dalam setiap amanah. Doa bersama kemudian dipanjatkan agar seluruh pegawai KUA Jatilawang selalu diberi kekuatan untuk menjaga adab, keikhlasan, dan profesionalitas dalam melayani masyarakat.
KUA Jatilawang menegaskan bahwa kajian khusus ini berbeda dengan kajian untuk masyarakat umum, karena ditujukan untuk memperkuat kompetensi internal penyuluh. Meski demikian, pesan-pesan yang dipelajari diharapkan dapat mengalir kepada masyarakat melalui bimbingan dan pelayanan yang lebih berkualitas, santun, dan penuh teladan. Semoga nilai-nilai adab semakin mengakar dalam setiap langkah pengabdian para penyuluh agama.
