Kepala KUA Jatilawang Tegaskan Komitmen Bebas KDRT dalam Bimbingan Perkawinan
Jatilawang — Membangun rumah tangga bukan sekadar menyatukan dua hati dalam ikatan pernikahan, melainkan menyatukan dua insan dalam komitmen untuk saling mencintai, menghormati, dan melindungi. Pesan itulah yang ditekankan Iskandar Zulkarnain, Kepala KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin, Purnanda dan Yuli Astuti, dengan materi komitmen mewujudkan keluarga yang bebas dari segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kamis (29/10)
Dalam bimbingan tersebut, Iskandar menegaskan bahwa rumah tangga semestinya menjadi tempat paling aman untuk pulang, bukan ruang yang menghadirkan ketakutan dan luka. Perbedaan pendapat hendaknya diselesaikan melalui dialog, bukan bentakan; persoalan disikapi dengan kesabaran, bukan ancaman; dan kemarahan dikendalikan dengan kebijaksanaan, bukan kekerasan.
Ia mengingatkan bahwa KDRT tidak hanya berbentuk kekerasan fisik, tetapi juga dapat berupa kekerasan psikis, seksual, maupun penelantaran rumah tangga. Karena itu, calon pengantin perlu membangun kesadaran sejak sebelum menikah bahwa cinta harus diwujudkan melalui sikap yang menghargai martabat, menjaga kehormatan, dan memenuhi hak pasangan.
Komitmen bebas KDRT bukan sekadar janji yang terucap menjelang pernikahan, melainkan prinsip yang harus dijaga sepanjang perjalanan berumah tangga. Suami dan istri perlu belajar mengendalikan emosi, saling mendengarkan, menghormati batas pribadi, serta mencari jalan keluar secara damai ketika persoalan datang menguji ketahanan hubungan.
Melalui Bimwin ini, KUA Jatilawang menegaskan pentingnya membekali calon pengantin dengan pemahaman dan kesiapan membangun keluarga yang sehat, harmonis, serta bebas dari kekerasan. Sebab, pernikahan yang kokoh bukanlah pernikahan tanpa masalah, melainkan ikatan yang menjadikan setiap masalah sebagai alasan untuk saling memahami, bukan saling menyakiti.
Pada akhirnya, rumah tangga yang bahagia bukan rumah yang tak pernah diwarnai air mata, melainkan rumah yang tidak menjadikan air mata sebagai akibat dari kekerasan. Di sanalah cinta menemukan maknanya: bukan dalam kuasa untuk menguasai, melainkan dalam kesanggupan menjaga; bukan dalam keberanian menyakiti, melainkan dalam ketulusan melindungi.
