HUT RI #81

Penyuluh KUA Somagede Ikuti Seminar Kesehatan Mental, Soroti Dampak Gadget pada Generasi Muda

KUA Somagede
KUA Somagede
29 Okt 2026
15x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 31-10-2026 09:31
SHARE

Banyumas – Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Somagede mengikuti Seminar Kesehatan Mental yang diselenggarakan di Aula Al Ikhlas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Kegiatan ini menjadi sarana untuk memperluas wawasan peserta mengenai persoalan kesehatan mental di tengah perkembangan teknologi digital. Kamis (29/10)

Seminar diawali dengan pembukaan dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa oleh Ketua Pengurus Daerah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kabupaten Banyumas, Lubab Habiburrahman.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Subbagian Tata Usaha Kemenag Kabupaten Banyumas, Naufal Iskandar, yang hadir mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas.

Dalam arahannya, Naufal menekankan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental, terutama di tengah meningkatnya penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari. Pemahaman mengenai dampak penggunaan gadget diperlukan agar masyarakat, khususnya anak-anak dan remaja, dapat lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi.

Kesehatan mental juga menjadi salah satu aspek penting dalam mempersiapkan generasi yang tangguh menuju Indonesia Emas 2045. Karena itu, edukasi dan pendampingan yang tepat perlu terus diperkuat melalui berbagai lingkungan, termasuk keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Bagi Penyuluh Agama Islam KUA Somagede, keikutsertaan dalam seminar ini menjadi kesempatan untuk memperluas perspektif dalam menjalankan tugas pembinaan umat. Wawasan mengenai kesehatan mental diharapkan dapat mendukung pelaksanaan penyuluhan yang lebih empatik dan responsif terhadap persoalan sosial yang dihadapi masyarakat.

Melalui kegiatan ini, penyuluh agama diharapkan mampu mengintegrasikan pesan-pesan edukatif tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dalam kegiatan penyuluhan di majelis taklim maupun kelompok binaan. Dengan demikian, peran penyuluh tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga turut mendorong tumbuhnya kepedulian terhadap kesejahteraan psikologis masyarakat.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi seminar dan diakhiri dengan foto bersama seluruh peserta. (NurY)