Romo Suranto Berbagi Pengalaman Hidup Selibat, Penyuluh KUA Wangon Petik Nilai Toleransi
Wangon – Romo Suranto, seorang rohaniwan Katolik asal Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, berbagi pengalaman mengenai perjalanan hidupnya sebagai seorang romo yang menjalani hidup selibat atau tidak menikah. Pengalaman tersebut menjadi ruang pembelajaran untuk memahami panggilan hidup keagamaan, pengabdian, serta komitmen dalam melayani umat. Melalui kisah yang dibagikan, peserta memperoleh wawasan mengenai pilihan hidup seorang rohaniwan Katolik yang dijalani dengan penuh tanggung jawab dan penghayatan iman. Jum'at(23/10)
Dalam berbagi pengalaman tersebut, kehidupan selibat dipahami sebagai bagian dari panggilan pelayanan dalam tradisi Gereja Katolik. Pilihan untuk tidak menikah bukan sekadar persoalan kehidupan pribadi, tetapi berkaitan dengan komitmen spiritual dan pengabdian kepada Tuhan serta umat. Kisah Romo Suranto juga membuka ruang dialog untuk saling mengenal nilai-nilai yang dijunjung dalam kehidupan keagamaan, sekaligus menumbuhkan sikap saling menghormati di tengah keberagaman keyakinan.
Zain, Penyuluh Agama Islam KUA Wangon, menyampaikan bahwa pengalaman lintas agama dapat menjadi sarana memperluas wawasan dan memperkuat semangat kerukunan. “Dari pengalaman Romo Suranto, kita dapat belajar tentang kesungguhan dalam menjalani panggilan hidup dan pengabdian kepada umat. Perbedaan keyakinan hendaknya tidak menjadi penghalang untuk saling menghormati, berdialog, dan membangun persaudaraan dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkap Zain.
Pegawai KUA Wangon menyambut baik berbagi pengalaman tersebut sebagai kesempatan untuk memperkuat pemahaman mengenai keberagaman praktik dan tradisi keagamaan. Dialog yang berlangsung dalam suasana terbuka dan penuh penghormatan diharapkan dapat menghilangkan prasangka serta membangun komunikasi yang lebih baik antarumat beragama. Sikap saling mendengarkan dan menghargai perbedaan menjadi modal penting untuk menjaga kehidupan masyarakat yang damai dan harmonis.
Melalui kegiatan berbagi pengalaman ini, diharapkan terbangun pemahaman yang semakin luas mengenai pentingnya toleransi, penghormatan terhadap pilihan hidup keagamaan, dan kerja sama dalam menjaga kerukunan. KUA Wangon terus mendukung upaya memperkuat moderasi beragama melalui komunikasi dan dialog yang mengedepankan nilai kemanusiaan serta persaudaraan. Dengan semangat saling menghormati, masyarakat diharapkan mampu hidup berdampingan secara damai dalam keberagaman. (Srf)
