HUT RI #81

Penyuluh KUA Jatilawang Tekankan Pentingnya Komunikasi Asertif Kepada Calon Pengantin

KUA JATILAWANG
KUA JATILAWANG
29 Okt 2026
23x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 29-10-2026 15:27
SHARE

Jatilawang — Membangun rumah tangga yang harmonis membutuhkan lebih dari sekadar cinta; diperlukan komunikasi yang sehat, kemampuan mengelola emosi, serta kesediaan memahami kebutuhan psikologis pasangan. Pesan tersebut disampaikan Muhammad Taubah, Penyuluh Agama KUA Jatilawang, saat memberikan Bimbingan Perkawinan (Bimwin) kepada calon pengantin, Kovan Olgasimvanis dan Yuli Setiowati, sebagai bekal membangun keluarga yang kokoh, saling menghargai, dan mampu menghadapi dinamika kehidupan bersama. Kamis (29/10)

Dalam bimbingan tersebut, Muhammad Taubah menekankan pentingnya komunikasi asertif, yakni kemampuan menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara jujur serta tegas tanpa merendahkan atau menyakiti pasangan. Perbedaan pendapat dalam rumah tangga merupakan hal yang wajar, tetapi cara menyikapinya menentukan apakah persoalan menjadi jembatan menuju pemahaman atau justru tembok pemisah di antara dua hati.

Ia juga mengingatkan pentingnya pengelolaan emosi ketika menghadapi konflik. Kemarahan yang tidak terkendali dapat melukai perasaan, sementara sikap saling mendengarkan dan kesediaan menahan diri membuka ruang bagi penyelesaian yang lebih bijaksana. Pasangan suami istri perlu belajar menyampaikan keberatan tanpa menghina, mengoreksi tanpa merendahkan, dan menyelesaikan masalah tanpa mengancam keutuhan hubungan.

Selain komunikasi dan pengendalian emosi, pemenuhan kebutuhan psikologis pasangan menjadi fondasi penting dalam membangun kedekatan. Perhatian, penghargaan, rasa aman, dukungan emosional, dan kehadiran yang tulus merupakan kebutuhan yang tidak selalu dapat digantikan oleh materi. Terkadang, pasangan tidak membutuhkan jawaban yang panjang, melainkan telinga yang bersedia mendengar dan hati yang sungguh-sungguh memahami.

Melalui Bimwin ini, Muhammad Taubah mengajak Kovan dan Yuli memahami bahwa pernikahan bukanlah perjalanan tanpa perbedaan, melainkan komitmen untuk tetap saling menggenggam ketika perbedaan datang menguji. Cinta perlu diwujudkan dalam tindakan sederhana sehari-hari: menyapa dengan lembut, meminta maaf dengan tulus, menghargai pendapat, menepati janji, serta hadir ketika pasangan membutuhkan dukungan.

Cinta bukan hanya perasaan yang bersemi di awal pernikahan, melainkan komitmen yang dirawat melalui tindakan nyata setiap hari. Sebab, rumah tangga yang kuat tidak selalu dihuni dua insan yang selalu sepakat, tetapi oleh dua hati yang bersedia saling memahami. Pada akhirnya, kebahagiaan bukan tentang siapa yang paling benar dalam sebuah pertengkaran, melainkan bagaimana keduanya tetap menjaga cinta tanpa kehilangan rasa hormat satu sama lain.