HUT RI #81

Perkuat Ketahanan Mental, Penyuluh Agama Lintas Iman di Banyumas Dalami Psikologi dan Penanganan Adiksi

KUA Lumbir
KUA Lumbir
29 Okt 2026
10x dibaca
Diubah oleh Adeliana pada 29-10-2026 16:59
SHARE

Banyumas – Memahami persoalan kecanduan atau adiksi tidak cukup hanya dengan melihat perilaku yang tampak di permukaan. Diperlukan pemahaman mendalam mengenai cara kerja otak, kondisi psikologis, serta pendekatan yang tepat untuk membantu seseorang keluar dari lingkaran kecanduan. Semangat inilah yang melatarbelakangi pelaksanaan kegiatan Bimbingan Mental bagi Penyuluh Agama lintas agama di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Kamis (29/10)

Kegiatan ini diikuti oleh para Penyuluh Agama dari berbagai agama yang berada di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Kehadiran para penyuluh lintas iman tersebut menjadi wujud komitmen bersama untuk meningkatkan kapasitas diri, memperluas wawasan, serta memperkuat kesiapan mental dalam menghadapi berbagai persoalan sosial dan keagamaan yang berkembang di tengah masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, Jacub Muliady hadir sebagai pemateri dengan membawakan materi tentang “Memahami Cara Kerja Otak dan Kaitannya dengan Kecanduan.” Materi ini mengajak peserta memahami bahwa adiksi merupakan persoalan kompleks yang berkaitan dengan mekanisme kerja otak, kebiasaan, dorongan untuk mengulangi perilaku tertentu, serta faktor lingkungan yang memengaruhi seseorang. Pemahaman tersebut penting agar masyarakat tidak terburu-buru memberikan penilaian negatif kepada individu yang sedang berjuang menghadapi kecanduan.

Melalui materi tersebut, peserta diajak melihat persoalan adiksi secara lebih objektif dan manusiawi. Kecanduan bukan semata-mata persoalan lemahnya kemauan, melainkan kondisi yang dapat melibatkan berbagai faktor biologis, psikologis, dan sosial. Dengan pemahaman yang lebih baik, penyuluh agama diharapkan mampu membangun komunikasi yang empatik, menghindari stigma, serta mendorong individu yang mengalami adiksi untuk memperoleh bantuan yang sesuai.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Dediyanti Kristian Sambeta dengan tema “Pendekatan Psikologis dalam Menghadapi Krisis Adiksi.” Dalam pembahasan ini, perhatian diarahkan pada pentingnya pendekatan psikologis ketika mendampingi individu yang mengalami persoalan kecanduan. Kemampuan mendengarkan, memahami kondisi emosional, membangun rasa aman, serta memberikan dukungan tanpa menghakimi merupakan bagian penting dalam menciptakan proses pendampingan yang lebih efektif.

Bagi Penyuluh Agama, pemahaman tersebut memiliki arti strategis karena mereka berhadapan langsung dengan masyarakat yang memiliki beragam persoalan kehidupan. Pendekatan spiritual yang disertai empati dan pemahaman psikologis dapat menjadi pintu awal untuk memberikan penguatan kepada individu maupun keluarga yang terdampak adiksi. Namun, ketika persoalan membutuhkan penanganan khusus, penyuluh juga perlu mendorong rujukan kepada tenaga profesional agar bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan.

Kegiatan Bimbingan Mental berlangsung dengan baik di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Suasana pembelajaran menjadi kesempatan bagi para peserta untuk memperkaya pengetahuan, memperluas sudut pandang, dan memperkuat kesiapan dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi penyuluh agama agar mampu merespons tantangan sosial secara lebih bijaksana, profesional, dan berorientasi pada kemanusiaan.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para Penyuluh Agama lintas iman di Kabupaten Banyumas semakin siap menjadi pendamping masyarakat yang tidak hanya kuat dalam pemahaman keagamaan, tetapi juga peka terhadap persoalan kesehatan mental dan adiksi. Sebab, menghadapi kecanduan membutuhkan lebih dari sekadar nasihat: diperlukan pemahaman, kepedulian, pendampingan yang tepat, serta kolaborasi dengan tenaga profesional. Dengan bekal tersebut, penyuluh agama diharapkan dapat turut menghadirkan lingkungan masyarakat yang lebih peduli, inklusif, dan mendukung proses pemulihan.