Perkuat Pendampingan Masyarakat, Penyuluh Agama dan Tenaga Pendidik Kemenag Banyumas Ikuti Seminar Kesehatan Mental
Purwokerto - Jajaran Penyuluh Agama Islam KUA Kebasen bersama para penyuluh agama lintas iman, pengawas madrasah, kepala madrasah, dan guru Bimbingan Konseling (BK) mengikuti Seminar Kesehatan Mental yang diselenggarakan di Aula Al Ikhlas Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Kegiatan yang berlangsung khidmat dan penuh antusiasme ini dibuka secara resmi oleh Plt Kasubbag TU Kemenag Kabupaten Banyumas, Naufal Iskandar. Kamis (29/10)
Seminar ini menghadirkan dua narasumber kompeten yang menyampaikan materi secara komprehensif dalam dua sesi berkesinambungan. Pada sesi pertama, Jacub Muliady memaparkan materi ilmiah mengenai cara kerja otak dan kaitannya dengan kecanduan. Ia menjelaskan mekanisme sistem reward pada otak, peran dopamin, serta proses terbentuknya kecanduan. Lebih lanjut dipaparkan bahwa kecanduan bukan sekadar masalah kebiasaan, melainkan adanya perubahan neurobiologi yang membuat seseorang sulit lepas dari perilaku adiktif, baik adiksi zat maupun adiksi perilaku seperti gawai (gadget), gim, dan media sosial. Melalui sesi ini, para peserta diajak memahami bahwa pemulihan dari kecanduan memerlukan proses, kesabaran, serta dukungan lingkungan yang kuat.
Melanjutkan pada sesi kedua, Dediyanto Christian Sambeta membawakan materi mengenai pendekatan psikologis dalam menghadapi krisis adiksi. Pembahasan difokuskan pada upaya membangun empati, teknik komunikasi efektif tanpa menghakimi, pentingnya mendengarkan secara aktif, hingga strategi pendampingan guna mendorong individu agar mau menjalani proses pemulihan. Dediyanto juga menekankan krusialnya kolaborasi antara keluarga, lingkungan, tokoh agama, dan tenaga profesional dalam penanganan masalah adiksi secara menyeluruh.
Melalui seminar ini, para peserta memperoleh wawasan dan bekal baru dalam menjalankan tugas bimbingan keagamaan maupun pendampingan di masyarakat. Dengan pemahaman mendalam terkait mekanisme kerja otak dan pendekatan psikologis yang humanis, para penyuluh diharapkan dapat mendampingi masyarakat yang menghadapi persoalan kesehatan mental dan adiksi secara lebih bijak. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar dan ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif serta foto bersama. (Siti Fatimah, S.Pd / KUA Kebasen)
